Senin, 08 Februari 2016
Biografi Bondan Gunawan
Biografi Alirahman
Riwayat hidup
Sejak kelahirannya di Menggala, 10 Oktober 1945, kesederhanaan hidup menjadikan semangat Alirahman, Menteri-Sekretaris Negara era Presiden Abdurrahman Wahid, bangkit dan membentuknya berkemauan keras.
Alirahman mendapatkan didikan sang ayah. Munzir, manusia yang paling dikaguminya itu berharap Alirahman mandiri, bahkan tanpa menggantungkan harapan pada sepotong cita-cita atau angan-angan. Alirahman yakin kemajuan hanya bisa dicapai dengan peningkatan iman dan takwa; sedang membaca dan belajar sekadar menjadi kegiatan rutin.
"Karena pergolakan ekonomi, saya dan keluarga pindah dari Tanjungkarang ke Menggala. Dalam perjalanan, Zubaidah, ibu yang sangat kami cintai, meninggal dunia," kenang Alirahman.
Realitas dan kenyataan hidup terus mengajarinya betapa hidup penuh perjuangan. Karakternya kian dibentuk. Semangat hidupnya tumbuh. Pola pikir makin berkembang. "Ayah mendidik saya sangat keras, tapi dengan kandungan kebijaksanaan. Suatu hari, ada famili membuka toko kelontongan, saya ikut membantu. Tapi ayah melarang. Ayah, penjahit dan pedagang kelontong, justru menyuruh saya mencari pekerjaan lain," kata Alirahman.
Suatu ketika ia meminta sepatu. Permintaannya langsung ditolak. Alirahman bertanya kenapa. Sang ayah justru menekankan agar Alirahman cari akal. "Pergilah memancing dan jual ikannya. Nanti kamu dapat uang, terus beli sepatu," ujarnya.
Cara ayah mendidiknya tidak sebatas lewat realitas hidup sehari-hari. Ia juga memberi gambaran dari beberapa sosok besar dunia seperti Abraham Lincoln, H.O.S. Tjokroaminoto, dan H. Agus Salim. Tidak jarang ayahnya berdiskusi dengan anak-anaknya. Kata ayahnya, keberhasilan yang hakiki muncul dari pribadi sendiri.
Ketika pada suatu kali bersama adiknya sedang menderes karet dan menggembala empat kambing, dia bertanya kepada sang ayah: Sesungguhnya apa yang diinginkan ayah dari anak-anaknya.
Ayahnya menjawab simpel: Kamu dapat menjadi kebanggaan orang tua, kebanggaan keluarga, syukur-syukur kebanggaan bangsa dan negara.
Tidak heran jika kini ditanya apa cita-citanya sejak kecil, Alirahman spontan menjawab dia tidak tahu apakah sewaktu kecil sudah punya cita-cita. Yang dia paham, kalau mau, sekolahlah menuntut ilmu. Pendidikan membuka jendela masa depan. Filosofi itu menggerakkannya keluar kampung halaman. Dengan menumpang kapal Halimun dan kereta api, sampailah Alirahman di Jakarta.
Dalam pengembaraan kehidupannya, Alirahman pernah pula tinggal di Ponorogo dan akhirnya tinggal cukup lama di Bogor. Di Jakarta dan di Bogor, dia menimba ilmu sepuasnya sehingga sempat melupakan tanah kelahiran dan kampung halaman. Pendidikan dasar dan menengah dilalui dengan gemilang. Tahun 1973 ia merengkuh gelar insinyur dari Institut Pertanian Bogor.
Periode 1970--1972, suami Mirna Ali (kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, 8 Juli 1947) ini duduk sebagai sekretaris jenderal Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM) IPB. Bagi dia, masa kuliah di IPB sangat menyenangkan karena banyak dosen peduli kemajuan mahasiswa.
Dia menyebut Andi Hakim Nasution sebagai pengajar yang tekun dan demokrat serta menganggap mahasiswa sebagai teman belajar. Nama ini abadi dalam ingatannya.
Dalam 1971--1972, ayah dua anak (Dahlia Agustini Ali, kelahiran Jakarta, 5 Agustus 1975, dan Hilman Ali, kelahiran 21 September 1976) ini menduduki kursi ketua Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) Cabang Bogor. "Sejak saat itu, saya mengenal Nurcholish Madjid dan mengaguminya," kata dia.
Selama 1972--1973, lulusan diploma dari Pendidikan Perencanaan Nasional (PPN) Universitas Indonesia (1975) itu menduduki kursi Ketua Dewan Mahasiswa IPB. "Di UI saya mengenal konsep ilmu ekonomi, yang diajarkan Sri Edi-Swasono," kata dia. Tugas pertamanya setelah menjadi pegawai negeri di Bappenas tahun 1974 adalah membantu kepala Biro Pertanian dan Pengairan menyusun konsep pelaksanaan program bimbingan massal (bimas) usaha ternak ayam.
Tahun 1975, bersama drh. Daman Danuwijaya, drh. Yaman, dan drh. Mangungsong, dia memprakarsai penyusunan konsep pelaksanaan pemanfaatan teknologi kawin suntik (artificial insemination) pada peternakan sapi perah di Pengalengan dan Malang.
"Selama di Bappenas, saya sangat terkesan dengan Widjoyo Nitisastro. Dia selalu mendorong dan mendidik untuk maju. Dia amat teliti soal akurasi data. Dia pun terkadang mengirim salinan buku-buku ekonomi," tuturnya.
Menyinggung masa awal ketika ditugaskan Presiden K.H. Abdurrahman Wahid sebagai Menteri-Sekretaris Negara, Alirahman menyatakan sempat tidak tahu penunjukan itu. Ketika namanya disebut masuk Kabinet Persatuan Nasional yang diumumkan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri beberapa hari setelah usainya SU MPR 1999, Alirahman sedang rapat di Badan Kepegawaian Negara (BKN). Waktu itu posisinya deputi Perencanaan dan Pengembangan Kepegawaian.
Beberapa rekan menerobos ruang rapat dan mengucapkan selamat. "Cek dulu," jawab saya. Akhirnya Alirahman resmi disebut. Dia pun langsung berdoa bersama anak yatim piatu di Al-Hasanah, Mampang, Jakarta Selatan. "Visi saya mengubah Sekretariat Negara dari power center menjadi service center, seperti yang pernah saya pelajari tentang Gedung Putih di Amerika," kata dia.
Selama menduduki jabatan sesneg, dia sudah bertekad membantu Gur Dur mengembangkan Republik Indonesia menjadi negara kuat. Negara kuat digambarkan oleh tegaknya hukum, tertibnya hukum, meningkatnya penerimaan pajak, dan kuatnya sistem ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Karena yakin jabatan itu semata hidayah dan bukan titipan, dia bekerja keras, kendati harus pulang larut.
Pendidikan:
Insinyur, tamat IPB tahun 1973
Diploma, Pendidikan Perencanaan Nasional (PPN),
Universitas Indonesia, tahun 1975
M.Sc. Economics, Colorado State University,
USA, tahun 1982
Ph.D., Agricultural and Natural Resource Economics,
Colorado State University, USA, tahun 1985
Jabatan
A. Sekretaris Negara
1999--2000 Sekretaris Negara (State Secretary) RI
11-8-1999 Deputi Perencanaan dan Pengembangan Kepegawaian, Badan Kepegawaian Negara (BKN).
1995--1999 Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perencanaan Pembangunan (Pusdiklat Renbang), Bappenas
1994--1995 Kepala Biro Administrasi Pendidikan dan Pelatihan, Bappenas.
1994--1995 Banasmen II, Penanggulangan Kemiskinan, Kantor Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional.
1994--1995 Kepala Divisi I Overseas Training Office (OTO), Bappenas.
1993--1994 Kepala Biro Pertanian, Pangan, dan Kehutanan, Bappenas.
1986--1993 Kepala Biro Pertanian dan Pengairan, Bappenas.
Kerja Sama Internasional
Sejak tahun 1986 bersama OECF, IFAD, World Bank, dan Asian Development Bank menyusun konsep berbagai kebijakan publik dan proyek perkebunan, perikanan, tanaman pangan, peternakan, dan pengairan.
Referensi:
Heri Wardoyo, dkk. 2008. 100 Tokoh Terkemuka Lampung, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bandar Lampung: Lampung Post. Hlm. 195-197. (http://paratokohlampung.blogspot.co.id/2008/11/alirahman-1945-bersekolah-pada.html)
Biografi Widodo A. S.
Setelah menyelesaikan sekolah atasnya di SMA Negeri 1 Surakarta dan lulus dari Akademi Angkatan Laut pada tahun 1968, Widodo menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Laut sebelum diangkat menjadi Wakil Panglima TNI oleh Presiden BJ Habibie, tahun 1999. Oleh Presiden Abdurrahman Wahid, ia diangkat menjadi Panglima TNI dari 26 Oktober 1999 hingga 7 Juni 2002. Ia merupakan panglima pertama yang bukan berasal dari kesatuan Angkatan Darat dalam sejarah Indonesia.
Riwayat Jabatan
- Komandan Peleton Kompi Protokol Denma Armada (1 Desember 1971)
- Perwira Urusan Dalam Lanal Semarang (3 Maret 1972)
- Kepala Seksi Operasi Keamanan Laut Lanal Semarang (1 Januari 1974)
- Kabag Penerangan dan Protokol Siaga PAL Surabaya (15 November 1975)
- Paban Muda Operasi Sops Kowilhan-IV / Hankam (1 Januari 1981)
- Paban Perencanaan dan Evaluasi Operasi Kowilhan-IV / Hankam (1 Juni 1981)
- Palaksa KRI Samadikun-341 (1985)
- Komandan KRI Monginsidi-343 (1986)
- Komandan KRI Ki Hadjar Dewantara-364 (1988)
- Komandan KRI Abdul Halim Pedanakusuma-355 (1989)
- Asisten Operasi Komandan Gugus Tempur Laut Armada Timur (1991)
- Perwira Pembantu (Paban) I Strategi dan Operasi pada Direktorat Kajian dan Pengembangan Sesko ABRI (1 Oktober 1992)
- Komandan Gugus Keamanan Laut Armada Barat (Guskamlabar) (15 Juli 1993)
- Kepala Staf Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) (1994)
- Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (1 Februari 1995)
- Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kasal (1 Maret 1996)
- Wakil Kepala Staf TNI AL (Wakasal) (15 Juli 1997)
- Kepala Staf Angkatan Laut (1998)
- Wakil Panglima TNI (17 Juli 1999)
- Panglima TNI (1999-2002)
- Menteri Koordinator Politik, Hukum, Dan Keamanan, Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009)
- Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (2010-sekarang)
Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Widodo_A._S.
Biografi Marzuki Darusman
Pendidikan
Sosok yang lebih akrab dipanggil Kiki ini menamatkan pendidikan di bangku sekolahnya di SMA Kolese Kanisius. Karena ayahnya seorang diplomat, ia bersekolah di berbagai negara mengikuti ayahnya ditugaskan seperti Singapura, Australia, Perancis dan Portugal. Ia pernah mengenyam pendidikan di jurusan Fisika Murni Institut Teknologi Bandung dan jurusan Arsitektur Universitas Goethe Frankfurt namun tidak selesai. Marzuki menamatkan jenjang S1 jurusan Hukum internasional Universitas Katolik Parahyangan Bandung pada tahun 1974. Selama kuliah, ia dipercaya menjadi Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (1970-1971) dan Sekretaris Jenderal Badang Kerjasama Senat/Dewan Mahasiswa Bandung.
Karier
Kiki mengawali kiprah politik sejak menjadi Sekretaris Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jawa Barat (1973-1974) dan Sekretaris Jenderal KNPI (1974-1978). Kemudian ia dipercaya menjadai Sekretaris Jenderal Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia/AMPI (1978-1981) dan selama menjadi Ketua KNPI Pusat juga menjabat Sekretaris Jenderal Komisi Kerjasama Pemuda Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara/ASEAN (1978-1981). Kariernya terus menanjak dengan menjadi Wakil Presiden Dewan Pemuda Asia (1977-1993), Wakil Ketua IPU Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa(1990-1992). Di dalam negeri, kariernya tak kalah mentereng. Kiki dipercaya menjadi Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (1993-1998) lalu Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (1998-2003). Ia juga pernah menjadi Ketua Partai Golongan Karya, Ketua Fraksi Partai Golongan Karya Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Jaksa Agung Kejaksaan Agung Indonesia. Saat menjabat sebagai Jaksa Agung, ia dianggap berprestasi karena berhasil menggiring beberapa koruptor papan atas ke dalam jerat hukum, diantaranya adalah mantan Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin dalam kasus Bank Bali (sekarang Bank Permata) dan Raja Hutan Bob Hasan serta beberapa kroni Soeharto.[1] Selain itu ia pernah menjabat sebagai Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 1998 dan salah satu tokoh yang turut mendirikan Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan.
Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Marzuki_Darusman
Biografi Cacuk Sudarijanto
- 2000-2001 - Menteri Muda Urusan Rekstrukturisasi Ekonomi Nasional, Kabinet Persatuan
- 2000 - Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional
- 1998-1999 - Direktur Jenderal Usaha Kecil dan Menengah, Departemen Koperasi dan UKM
- 1996-1998 - Direktur Utama PT. Bank Mega Tbk.
- 1988-1992 - Direktur Utama PT. Telekomunikasi Indonesia
- 1980-1988 - Direktur Operasi PT. Indosat
- 1974-1980 - IBM Indonesia dengan Posisi terakhir sebagai Direktur Operasi
Di luar karier
- 1995 - Direktur Eksekutif, Panitia Nasional 50 Tahun Indonesia Merdeka
- 1987-2000 - Pengajar LEMHANNAS
- PERMANIN (Persatuan Manajemen Indonesia)
Buku/Artikel tulisan Cacuk Sudarijanto
- Belajar Tiada Henti, Autobiografi
- Jurus Manajemen, Kumpulan Artikel
Penghargaan
- Satya Lencana
Referensi:
Kamis, 13 November 2014
Biografi Manuel Kaisiepo
Manuel Kaisiepo (lahir di Biak, Papua, 25 Desember 1953; umur 60 tahun) adalah Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia pada Kabinet Gotong Royong. Ia merupakan politikus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Manuel merupakan anggota komisi Energi Sumber Daya Mineral, Riset, Teknologi, Lingkungan Hidup (Komisi VII). Sebelum meniti karir sebagai menteri, Manuel Kaisiepo merupakan seorang editor Jurnal Prisma (LP3ES) di Jakarta.
Ia juga pernah berkarir sebagai wartawan Kompas, Jakarta pada tahun 1984-2000.
Sebagai Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia, ia dikenal sangat berusaha memperjuangkan keadilan bagi rakyat di kawasan Indonesia bagian Timur, khususnya Papua.
Sebagai putra daerah asli Papua, ia memiliki rasa kepedulian yang tinggi untuk meningkatkan derajat hidup masyarakat Papua di segala aspek kehidupan. Salah satu permasalahan yang menjadi fokus perjuangan Manuel Kaisiepo adalah permasalahan perang suku yang masih sering terjadi di Papua pada saat itu. Ia menilai bahwa pecahnya perang suku di Papua merupakan akibat dari kekacauan logika yang terjadi di antara anggota masyarakat.
Manuel Kaisiepo sempat menulis buku berjudul "Komitmen Manuel Kaisiepo: bagi kawasan timur Indonesia dalam kebijakan SDA dan SDM Seri pembangunan kawasan timur Indonesia" dan diterbitkan oleh Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia, Republik Indonesia, 2004.
Pada tahun 2009, ia pernah diperiksa sebagai saksi dalam kasus korupsi pengadaan alat kesehatan tahun anggaran 2003. Kasus korupsi ini diduga menimbulkan kerugian negara yang mencapai Rp 71 miliar.
Pada tahun 2011, Manuel Kaisiepo turut menanggapi kegagalan terlaksananya Undang-Undang Otonomi Khusus (Otsus) . Menurut dia, saat Undang-Undang Otsus dirancang, semua berharap sangat besar karena isinya sangat baik dan berupa konsensus politik yang akan mengakhiri konflik-konflik di masa lampau pada waktu itu.
Riset dan analisa oleh Pilar Asa Susila
PENDIDIKAN
Sarjana Hubungan Internasional FISIP UGM (1973 - 1975)
Sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta. (1977 - 1979)
Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyakara (1984)
Institute of Management, Jakarta S2, MBA, Honolulu (2000)
KARIR
Editor Jurnal Prisma (LP3ES), Jakarta
Wartawan Kompas Jakarta 1984 - 2000
2000-2001 Menteri Muda Urusan Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia Kabinet Persatuan Nasional
2001-2004 Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia Kabinet Gotong Royong
Anggota DPR 2009 - 2014
Rabu, 12 November 2014
Biografi Anak Agung Gde Agung
Putra sulung dari Dr.Ida Anak Agung Gde Agung, seorang Menteri Dalam Negeri dan Menteri Luar Negeri pada masa pemerintahan Presiden pertama RI Ir.Soekarno.
Karyanya yang bernama “Tri Hita Karana” yang dia jelaskan dalam disertasinya ini dinilai oleh para professor Universitas Leiden, Belanda, bersifat menyeluruh dan dapat diterapkan di berbagai kebudayaan di dunia yang mengalami erosi. Penelitian yang dia kembangkan dapat mengidentifikasi dengan pasti masalah dan bagaimana solusinya.
Disertasinya ini meraih predikat summa cum laude, sekaligus pioneering, karena Anak Agung Gde Agung dianggap menciptakan metode baru dalam penelitian antropologi. Metodologi yang kuantitatif ini dianggap memberi terobosan, yaitu sebagai cara terbaik menganalisis status kebudayaan, mengidentifikasi dengan pasti sebab-sebab erosi, serta menganalisis dampak dan solusinya dengan tepat dan pasti. Upacara penyerahan gelar seusai pengujian di depan 10 mahaguru itu menjadi istimewa karena Rektor Universitas Leiden Prof DD Breimer membacakan surat Ratu Beatrix yang dibawa utusan kerajaan untuk Anak Agung Gde Agung.
PENDIDIKAN
Universitas Leiden Belanda program doktor di bidang konservasi biokultural dan pengembangan masyarakat
KARIR
Menteri Negara Masalah Kemasyarakatan
Bupati Gianyar, Bali
Anggota kommisi II DPRD Provinsi Bali fraksi PDI Perjuangan tahun 2009
PENGHARGAAN
Namanya berada di urutan nomor sembilan, setelah nama dari delapan tokoh terkemuka seluruh dunia, yang menjadi pelopor di bidangnya masing-masing, seperti Winston Churchill, Nelson Mandela, dan Albert Einstein.






