Rabu, 28 Maret 2012

Biografi Adi Sasono

Adi Sasono (lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 16 Februari 1943; umur 69 tahun) adalah mantan Menteri Koperasi dan UKM pada era Kabinet Reformasi Pembangunan. Ia dikenal sebagai tokoh LSM dan berbagai aktivitas kemasyarakatan lainnya. Selain itu ia juga merupakan tokoh [(Himpunan Mahasiswa Islam]] (HMI), Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI), Pelajar Islam Indonesia (PII) dan ICMI dengan pernah menjadi Sekretaris Umum pada tahun 1990-an.

Adi Sasono merupakan anak dari pasangan Adnan Martawiredja dan Sasinah Ranuwihardjo. Ayahnya dikenal sebagai tokoh penggerak pembauran warga pribumi dan nonpribumi di Pekalongan. Bersama sang istri, ayahnya juga tercatat sebagai aktivis sosial terutama dalam bidang pendidikan dan penyantunan anak yatim dan fakir miskin. Kepedulian orang tuanya terhadap kegiatan kemasyarakatan khususnya yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat di kemudian hari juga menurun pada Adi Sasono.

Setelah tamat SMA, cucu dari Mochammad Roem ini melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Semasa duduk di bangku kuliah, Adi sudah aktif di sejumlah organisasi kemahasiswaan. Selain pernah menduduki kursi Ketua Dewan Mahasiswa ITB (1965-1966), ia juga sempat menjadi Ketua Umum HMI Cabang Bandung (1964-1965).

Selain terlibat dalam organisasi mahasiswa, sejak tahun 80-an Adi juga dikenal aktif di sektor kemasyarakatan melalui wadah LSM. Padahal ia pernah menjadi manajer di PT Krama Yudha, namun jabatan itu ia tinggalkan meski memberikan materi yang cukup menjanjikan. Pada tahun 1988 hingga 1993, Adi menjadi ketua Tim Pengkajian Pengembangan Perumahan Rakyat di Kementerian Perumahan Rakyat. juga pernah menjadi ilmuwan senior di BPPT, serta sempat menjabat sebagai anggota Dewan Riset Nasional periode 1993-1999.

Sebagai aktivis LSM, suami dari Male Maria ini selalu berusaha dekat dengan rakyat kecil. Adi yang sejak kecil sudah terbiasa melihat kedua orangtuanya mengabdikan hidup pada masyarakat kelas bawah terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Ia mendekat dengan mereka yang kian terpinggirkan, mulai dari petani, tukang becak, nelayan, pedagang kakilima, buruh, hingga pemulung sampah. Merekalah yang menurut Adi kian tertindas dalam sejarah sosial yang panjang sejak jaman penjajahan hingga masa kemerdekaan karena kebijakan pembangunan yang lebih berorientasi kepada sektor modern dan kepentingan kaum elit.

Sebelum zaman reformasi bergulir, kebanyakan orang lebih memilih tiarap, menyerah pada keadaan, membungkuk kepada kekuasaan, dan kepentingan kebendaan. Sebagian kaum terdidik dan profesional bahkan cenderung bersikap oportunistik, sebagian lagi masuk ke dalam sistem mencoba ‘merubah dari dalam’ namun ternyata mereka malah ‘dirubah’ di dalam sistem.

Adi Sasono berpendapat bahwa mustahil menjalankan pemikiran tanpa tindakan sosial alternatif. Oleh karena itu, harus dibangun kesadaran dan kehendak rakyat untuk bisa mengambil prakarsa untuk merubah nasib melalui tindakan bersama. Ia berprinsip harus ada siklus antara pemikiran, penyadaran, dan tindakan sosial dalam satu rantai berkesinambungan untuk mewujudkan transformasi sosial dari masyarakat yang feodal, yang membungkuk pada kekuasaan dan cenderung menyembah kepada harta benda menjadi masyarakat yang maju, setara, modern, demokratis dan beradab. Artinya harus ada transformasi sosial dari masyarakat terbelakang pra-madani menjadi masyarakat madani.

Berangkat dengan pemikiran teoritis tadi, ia banyak melahirkan buku-buku dalam perspektif ekonomi politik tentang ketergantungan dan kemiskinan. Melalui LSM yang dipimpinnya, berbagai penghargaan tingkat nasional dan internasional juga telah berhasil diraihnya, antara lain Agha Khan Award untuk perencanaan dan pembangunan kota dengan prinsip "membangun tanpa menggusur" yang merupakan proyek di kota Samarinda oleh Lembaga Studi Pembangunan (LSP). Selain itu melalui lembaga yang sama untuk proyek Low Cost Housing Perumahan Buruh Pabrik Bina Karya di Bandung. Di tingkat nasional, PUPUK (Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil), sebuah LSM yang pernah didirikan dan dipimpinnya memperoleh penghargaan Upakarti yang diberikan oleh pemerintah Indonesia untuk pengembangan industri kecil pada tahun 1990. Sembilan tahun berselang, Adi memperoleh penghargaan Bintang Mahaputera Adi Pradana.

Media pun tak mau ketinggalan menyikapi sepak terjang Adi sebagai aktivis LSM yang menggalakkan program ekonomi kerakyatan. Dalam satu tulisan di Majalah Far Eastern Economic Review edisi minggu pertama Desember 1998, bahkan menjulukinya sebagai "The Indonesia’s Most Dangerous Man?" (Orang Indonesia yang Paling Berbahaya?). Menurut majalah mingguan itu, julukan tersebut diberikan pada Adi karena kebijakan politik ekonomi kerakyatannya yang membuat khawatir para pelaku bisnis konglomerat. Lain halnya dengan majalah The Economist, majalah dari Inggris itu menyebutnya sebagai Robin Hood van Java.

Adi Sasono berpendapat bahwa mustahil menjalankan pemikiran tanpa tindakan sosial alternatif. Oleh karena itu, harus dibangun kesadaran dan kehendak rakyat untuk bisa mengambil prakarsa untuk merubah nasib melalui tindakan bersama. Ia berprinsip harus ada siklus antara pemikiran, penyadaran, dan tindakan sosial dalam satu rantai berkesinambungan untuk mewujudkan transformasi sosial dari masyarakat yang feodal, yang membungkuk pada kekuasaan dan cenderung menyembah kepada harta benda menjadi masyarakat yang maju, setara, modern, demokratis dan beradab.

Anggapan dirinya sebagai sosok yang ’berbahaya’ menurut Adi menunjukkan ketidakpahaman berbagai pihak tentang kebijakan ekonomi kerakyatan. Ia menjelaskan bahwa tugas utama kebangsaan adalah mengoreksi ketidakadilan yang telah berlangsung lama dalam sejarah Indonesia yang menyebabkan sekelompok kecil orang menguasai hampir semua sumber daya ekonomi dan politik. Sementara di sisi lain, rakyat jelata harus bergulat dalam lingkaran kemiskinan yang serba berkekurangan bahkan untuk sekadar mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Padahal, dalam sejarah bangsa, rakyat kecillah yang mendukung perjuangan kemerdekaan melawan penjajah. Dalam masa krisis sektor ekonomi, rakyat yang mempertahankan kelangsungan hidup negara karena kemampuannya menyerap kesempatan kerja dan meredam ketegangan sosial.

Pengalaman yang lalu memberi pelajaran ketergantungan kepada konglomerat menciptakan ketergantungan asing karena besarnya komponen impor dalam proses pembangunan nasional. Kemandirian nasional hanya mungkin dibangun kalau dasar pembangunan ekonominya adalah rakyat dengan prakarsa kemampuan dan sumber daya lokal yang tinggi. Tanpa kemandirian sulit dibayangkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang terhormat. Karena itu, diantara tugas kebangsaan yang mendesak membangun kemandirian adalah dasar dari pernyataan rasa nasionalisme kita. Dengan dasar nasionalisme kerakyatan, Adi yakin, bangsa Indonesia akan tampil kembali sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat.

Ekonomi rakyat yang maju akan membuat lingkungan sosial menjadi lebih bersahabat untuk dunia usaha dan memperluas basis masyarakat konsumen yang berdaya beli tinggi. Karena itulah menurut keyakinan Adi, koreksi ketidakadilan harus digerakkan tidak untuk menghancurkan perusahaan besar. Paham ekonomi rakyat tidak anti yang besar, yang dipersoalkan adalah kecenderungan monopoli yang menciptakan ekonomi biaya tinggi dan beban bagi rakyat konsumen karena ketiadaan kompetisi di dalam proses ekonomi pasar. Paham ekonomi rakyat ditujukan untuk mengatasi ketidakadilan dan kemiskinan masal yang menjadi sumber ketegangan sosial selama ini. Perjuangan membangun ekonomi rakyat diarahkan agar terbentuk kelas menengah sebagai mayoritas masyarakat bangsa yang mendukung pembangunan sejati yang berkelanjutan dan dasar bagi terbentuknya masyarakat yang demokratis.

Dalam perjalanan hidupnya, Adi pernah menjabat sebagai Menteri Koperasi dan UKM Kabinet Reformasi era Presiden BJ Habibie. Dengan jabatan yang awalnya dipegang oleh Subiyakto Tjakrawerdaya itu, kesempatan untuk memperjuangkan kesejahteraan kaum miskin semakin terbuka lebar dimana rakyat petani, nelayan serta usaha mikro dan kecil di seluruh Indonesia dipercepat peengembangan ekonominya.

Menurut Adi, nasib manusia harus diperjuangkan. Perbaikan nasib tidak akan jatuh dari langit. Karena itu, seluruh komponen bangsa harus bersatu untuk membangun kesadaran kolektif bagi terwujudnya keadilan sosial dan kedaulatan rakyat yang sebenar-benarnya baik secara politik maupun ekonomi.

Prinsip keadilan, adalah kata kunci dalam menjalani hidupnya, termasuk ketika bertugas sebagai menteri. Ia berharap, prinsip keadilan menjadi roh yang mewarnai perjalanan hidup bangsa menuju Indonesia Baru. Dengan terus memupuk keyakinan bahwa konsep negara dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, tak akan pernah sirna. Sayangnya jabatan tersebut hanya diembannya kurang dari dua tahun, dari 23 Mei 1998 hingga 20 Oktober 1999.

Setelah sempat menghilang, Adi kembali meramaikan panggung politik dengan mengusung bendera Partai Merdeka, sebuah partai politik yang didirikannya pada 10 Oktober 2002. Partai tersebut pertama kali tampil dalam pemilu tahun 2004 dan 2009.

Tiga aspek yang ditonjolkan dalam prinsip partai ini adalah aspek kebangsaan, kerakyatan dan kemandirian. Para pendiri partai ini sebelumnya menyalurkan aspirasi dan pemikiran mereka kepada partai politik yang telah ada terlebih dahulu. Dalam perjalanannya karena merasa tidak ada parpol yang mampu mewujudkan aspirasi tersebut, maka akhirnya mereka bergabung dan mendirikan Partai Merdeka di bawah komando Adi Sasono.

Partai Merdeka mempunyai fokus program kerja untuk memajukan ekonomi kerakyatan dengan dukungan dari organisasi koperasi, serikat pekerja, guru, usaha kecil menengah, pedagang kaki lima, nelayan dan kaum intelektual.

Selain itu, ayah lima anak ini juga aktif di berbagai organisasi profesi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Pimpinan harian Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) selama dua periode berturut-turut, 2004-2009 dan 2009-2014.

Dalam sebuah pidatonya saat masih menjabat sebagai Ketua Pimpinan harian Dekopin di Seminar Sehari tentang Perkoperasian Dalam Rangka Memperingati HUT Koperasi ke-61 tahun 2008, Adi menyampaikan pandangannya mengenai koperasi dan UKM.

Ia menilai dalam menghadapi tantangan global, pelaku koperasi dan UKM perlu merubah cara berpikirnya menjadi pola berpikir kreatif dan inovatif. Bila tidak, maka negara-negara lain terutama negara yang memiliki modal besar akan tetap menjadikan Indonesia sebagai sapi perahan ekonominya. Menurutnya, mulai merubah cara pikir merupakan hal yang amat penting, mengingat saat ini yang menguasai perekonomian dunia bukan lagi mereka yang memiliki sumber daya alam dan bahan baku berlimpah. Orang yang menguasai perekonomian adalah mereka yang mampu berpikir kreatif dan menciptakan berbagai inovasi baru.

Ia juga memberi contoh bentuk pemerasan negara lain yang menjadikan Indonesia sebagai 'sapi perahan', di antaranya Indonesia sebagai sumber bahan mentah, sumber buruh berpenghasilan rendah dan sumber pemasaran serta sumber pasar potensial atas berbagai produk yang diciptakannya.

"Jadi, negara asing membeli bahan baku di negeri ini dengan harga murah yang kemudian diolah dengan mempekerjakan tenaga kerja Indonesia dengan penghasilan sangat rendah. Hasil produksi tersebut kemudian dijual lagi ke Indonesia dengan harga mahal," jelas mantan Sekretaris Umum ICMI tahun 90-an itu.

Untuk menghindari penjajahan gaya baru semacam itu dan tidak terus terjadi di Indonesia, ia meminta agar masyarakat terutama pelaku koperasi dan UKM di Tanah Air berpikir kreatif dan inovatif dengan menciptakan dan meningkatkan berbagai produk unggulan, termasuk produksi kerajinan dan pertanian unggulan masing-masing daerah.

Adi juga menyoroti langkah pemerintah mengundang dan memfasilitasi pemilik-pemilik modal asing seperti Carrefour, Alfamart dan perusahaan retail lainnya untuk mengembangkan usahanya di Indonesia sebagai langkah yang keliru. Sebab, kehadiran pemilik modal asing ini akan menghabisi dan menyingkirkan usaha-usaha rakyat terutama kalangan pelaku kecil dan menengah, seperti kios-kios dan warung-warung kecil.

Memang diakuinya, sudah menjadi sifat konsumen yang ingin mendapatkan pelayanan yang cepat dan tepat di tempat yang layak dan bersih. Namun untuk mensiasati hal itu sebenarnya tidak perlu mendatangkan pemilik modal asing, cukup dengan cara memoderenkan pasar-pasar tradisional dengan tempat dan lokasi yang lebih menarik.

Biografi Marzuki Usman



Marzuki Usman (lahir di Mersang, Jambi, 30 Desember 1943; umur 69 tahun) adalah mantan Menter Pariwisata Pos dan Telekomunikasi pada Kabinet Reformasi Pembangunan. Ia menikah dengan Aswarni pada tahun 1972 dan memiliki lima orang anak. Ia adalah anak keempat dari sembilan bersaudara, dari pasangan H. Usman Abul dan Cholijah asal Minangkabau.

Pendidikan

Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Organisasi

Mantan Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI)

Karya Buku

Tiga Menakbir Mimpi, terbitan tahun 1998

Karier

Kepala Badan Pengelola Pasar Modal (Bapepam), Departemen Keuangan, 1988-1992
Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK), Departemen Keuangan, 1991-1995
Kepala Badan Analisis Keuangan dan Moneter, Departemen Keuangan, 1996
Komisaris Utama PT Bursa Efek (BEJ), Jakarta
Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya ((Men Parsenibud), 1998-1999
Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), 1999
Deputy Chairman PT Lippo E-Net, Tbk
Menteri Kehutanan RI, 2001


Biografi Muslimin Nasution


Dr Ir Muslimin Nasution (lahir di Tapanuli, 26 Januari 1939; umur 73 tahun) adalah Menteri Kehutanan dan Perkebunan pada Kabinet Reformasi Pembangunan. Saat ini ia menjadi salah satu anggota Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Sayang tidak banyak riwayat hidup beliau yang bisa saya ceritakan kepada anda, karena kurangnya sumber sejarah yang menceritakan tentang kehidupan beliau.


Biografi Bambang Subianto



Bambang Subianto adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia Kabinet Reformasi Pembangunan yang menjabat dari 23 Mei 1998 sampai 20 Oktober 1999. Setelah menerima gelarnya di Faklutas Teknik Kimia (Institut Teknologi Bandung - ITB) pada tahun 1973, Bambang bergabung dengan Institut Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) sebagai peneliti, dan tak lama kemudian (1975) sebagai seorang dosen.

Pada tahun 1978, dia melanjutkan pendidikannya pada Universitas Katolik Leuven, di Belgia dan mendapatkan gelar S2 Keuangan Perusahaan dan Ekonomi Bisnis pada tahun 1981, dan juga gelar Doktoral di bidang Organisasi Industri pada tahun 1984.

Dr. Bambang Subianto kembali ke Indonesia pada tahun 1984 dan kembali berperan dalam pengembangan Institut Manajemen Fakultas Ekonomi - Universitas Indonesia (FEUI).

Pada tahun 1988, Dr. Bambang Subianto bergabung dengan Departemen Keuangan sebagai Direktur pada Direktorat Institut Keuangan dan Akutansi. Pada tahun 1992, dia dipromosikan sebagai Dirjen Direktorat Institut Keuangan pada Departemen Keuangan. Selama masa jabatannya sebagai Dirjen dia turut aktif dalam pengembangan hukum dan peraturan ekonomi, termasuk Hukum Kapital Pasar (1995), Pendapatan Perusahaan di luar Pajak (1997), dan peraturan yang mengharuskan semua perusahaan di Indonesia untuk melaksanakan transaparansi dengan mendaftarkan laporan keuangan mereka yang telah di-audit pada lembaga yang telah ditunjuk, dan memaparkan laporan tersebut ke khalayak umum (1998).

Ditengah krisis moneter pada bulan Januari 1998, Dr. Bambang Subianto ditunjuk sebagai Kepala BPPN yang pertama. Di bulan Mei 1998 dia menjadi Menteri Keuangan Indonesia (1998 - 1999).

Setelah berkiprah di berbagai macam karier dalam layanan publik, Bambang bergabung dengan Ernst & Young, sebagai partner di bulan Juli 2000, dan pensiun pada tahun 2005. Setelah itu ia ditunjuk sebagai Preskom PT Star Energy Investments Komisaris Independen PT Unilever Indonesia Tbk.


Biografi Muhammad Yunus Yosfiah




Muhammad Yunus Yosfiah (lahir di Rappang, 7 Agustus 1944; umur 68 tahun) adalah salah seorang tokoh militer Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan yang terakhir pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie. Ia adalah lulusan Akmil tahun 1965. Jabatan tersebut, beserta Departemen Penerangan yang dibawahinya, kemudian dihapuskan oleh Presiden Abdurrahman Wahid.

Pada bulan Maret 2007, petugas penyidik sebab kematian di Australia mengeluarkan perintah penangkapan atas Yosfiah atas kematian lima wartawan di Timor Timur 32 tahun sebelumnya. Saat itu Yosfiah memimpin sebuah penyerangan ke desa Balibo.

Karier

Kolonel:Asisten Operasi Kepala Staf Komando ABRI XVI
Komandan Resort Militer 164 Wiradharma, Dili, Timor Timur
Brigadir Jenderal:Direktur Peningkatan Pembangunan dan Pendidikan Akademi Militer
Kepala Staf Daerah Militer VI/ Tanjungpura
Mayor Jenderal:Komandan Pusat Persenjataan Infanteri TNI
Panglima Daerah Militer II/Sriwijaya
Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat
Letnan Jenderal:Kepala Staf Sosial Politik ABRI


Biografi Syarwan Hamid



Syarwan Hamid (lahir di Siak, Riau, 10 November 1943; umur 69 tahun) adalah salah satu tokoh militer dan politik Indonesia. Ia pernah menjadi Menteri Dalam Negeri pada Kabinet Reformasi Pembangunan. Ia juga dikenal sebagai tokoh gerakan Pelajar Islam Indonesia (PII) semasa mudanya dulu.

Ia seorang perwira tinggi yang termasuk sukses. Saat terjadinya Peristiwa 27 Juli, Alumnus Akademi Militer Nasional 1966, ini menjabat Kepala Staf Sosial Politik (Kassospol) ABRI, suatu jabatan politik militer yang amat berkuasa pada era itu. Namun tumbangnya Orde Baru tidak serta-merta membuat karirnya terhenti. Bahkan pada awal reformasi, pria kelahiran Siak, Riau, 10 November 1943, ini sempat menjabat Menteri Dalam Negeri (1998-1999).


Ia putera Riau yang mencapai puncak karir sebagai Menteri Dalam Negeri. Suatu jabatan strategis yang sebelumnya hanya diberikan kepada orang-orang tertentu. Tetapi Syarwan memecah dominasi orang-orang tertentu itu. Memang, bukan kali ini saja ia memecah ‘tradisi buruk’ seperti itu. Ketika ia menjabat Kapuspen ABRI dengan pangkat bintang satu (brigadir jenderal) pada tahun 1993-1995, orang mengira itu merupakan jabatan terakhirnya. Sebab sangat jarang terjadi seorang perwira yang memegang jabatan juru penerang militer itu naik ke jabatan-jabatan strategis lainnya. Tetapi, ‘tradisi buruk’ itu tidak berlaku bagi Syarwan.

Ia berhasil menunjukkan siapa dirinya pada saat menjabat Kapuspen ABRI itu. Sehingga ia dipromosi menjadi Asisten Sosial Politik Kepala Staf Sosial Politik ABRI dengan pangkat Major Jenderal (bintang dua). Bahkan satu tahun kemudian, penggemar fotografi yang memiliki koleksi puluhan kamera, ini diangkat menjadi Kepala Staf Sosial Politik (Kassospol) ABRI, suatu jabatan politik militer yang amat berkuasa pada era itu. Pangkatnya pun naik menjadi letnan jenderal (bintang tiga). Dialah orang pertama lulusan AMN 1966 yang mendapat pangkat letnan jenderal.

Kemudian, pada 1997, ia dikaryakan menjadi Wakil Ketua DPR/MPR mewakili ABRI. Ketika reformasi bergulir, dan Soeharto jatuh, karirnya masih menanjak. BJ Habibie menunjuknya menjadi Menteri Dalam Negeri. Barulah setelah Habibie jatuh pada Sidang Umum MPR 1999 (pertanggungjawabannya ditolak SU-MPR), Syarwan pun ikut turun gelanggang. Kemudian ia sempat mencoba bangkit dengan cara memperjuangkan aspirasi masyarakat Riau. Ia malah salah seorang yang setuju dengan gagasan negara federal. "Hubungan pusat daerah harus diperbaiki. Bentuk negara paling berhasil adalah negara federal," katanya ketika itu. Suatu pernyataan yang bertolak belakang dengan prinsip militer.

Suami dari Endang Agustini, ini meniti karir di militer selepas lulus Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1966. Ia juga telah mengasah diri melalui Sekolah Staf dan Komando ABRI , Seskoad dan Lemhanas.

Ia menjabat Kasrem 063/SGJ (1985). Kemudian dipercaya menjabat Kapendam III/Siliwangi (1986), Pardor Sarli Dispenad (1988) dan Asisten Teritorial Kodam Jaya (1989). Setelah itu ia ditugasi menjadi Danrem 011/Lilawangsa, Aceh (1990). Saat menjabat Komandan Korem Lilawangsa, Lhokseumawe, Aceh, ini ia dianggap berhasil meredam pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka terhadap NKRI. Bintangnya pun bercahaya untuk masuk ke jajaran perwira tinggi. Ia pun diangkat menjabat Kadispen TNI Angkatan Darat (1992) dengan pangkat brigadir jenderal (bintang satu). Tak lama kemudian menjadi Kapuspen TNI (1993), Assospol Kassospol ABRI (1995) sampai menjabat Kassospol ABRI (1996) dengan pangkat letnan jederal.

Saat ia menjabat Kassospol ABRI itu terjadi Peristiwa 27 Juli 1996. Ia pun diduga terlibat dalam kasus itu dan yang melatarbelakangi tragedi itu. Pada 27 Juli 1996 itu terjadi penyerbuan berdarah ke kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Jakarta, sebagai bagian dari upaya kekerasan menggulingkan Megawati Sukarnoputri dari posisi Ketua Umum DPP PDI.

Ketika itu pemerintah menyelenggarakan Kongres PDI (Partai Demokrasi Indonesia) di Medan untuk mengganti Megawati dengan Soerjadi. Syarwan membantah, ide penggulingan itu dari dirinya. Menurutnya, Mendagri Yogie S. Memed selaku pembina politik yang menyarankan agar diadakan kongres untuk menyelesaikan konflik dalam tubuh PDI. Ia juga membantah terlibat dalam kasus berdarah 27 Juli 1966 itu.


Selasa, 27 Maret 2012

Kabinet Reformasi Pembangunan [1998-1999]

Kabinet Reformasi Pembangunan adalah kabinet pemerintahan Presiden RI ketiga BJ Habibie (1998-1999). Kabinet ini terdiri dari sejumlah menteri koordinator, sejumlah menteri pemimpin departemen, sejumlah menteri negara, Sekretaris Negara, dan Jaksa Agung.

Menteri departemen

1 Menteri Dalam Negeri Syarwan Hamid
2 Menteri Luar Negeri Ali Alatas
3 Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI Wiranto
4 Menteri Kehakiman Muladi
5 Menteri Penerangan Yunus Yosfiah
6 Menteri Keuangan Bambang Subianto
7 Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rahardi Ramelan
8 Menteri Pertanian Soleh Solahudin
9 Menteri Pertambangan dan Energi Kuntoro Mangkusubroto
10 Menteri Kehutanan dan Perkebunan Muslimin Nasution
11 Menteri Pekerjaan Umum Rachmadi Bambang Sumadhijo
12 Menteri Perhubungan Giri Suseno Hadihardjono
13 Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya Marzuki Usman
14 Menteri Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah Adi Sasono
15 Menteri Tenaga Kerja Fahmi Idris
16 Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan AM Hendropriyono
17 Menteri Kesehatan Faried Anfasa Moeloek
18 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Juwono Soedarsono
19 Menteri Agama Malik Fajar
20 Menteri Sosial Justika Baharsjah

Menteri negara

21 Menteri Negara Sekretaris Negara Akbar Tandjung
(sampai dengan Mei 1999),
Muladi
(sejak Mei 1999)
22 Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Boediono
23 Menteri Negara Riset dan Teknologi/Kepala BPPT Zuhal
24 Menteri Negara Pendayagunaan Badan Usaha Milik Negara/Kepala Badan Pengelola BUMN Tanri Abeng
25 Menteri Negara Pangan dan Holtikultura A.M. Saefuddin
26 Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN Ida Bagus Oka
27 Menteri Negara Investasi/Kepala BKPM Hamzah Haz
(sampai dengan Mei 1999),
Marzuki Usman
(sejak Mei 1999)
28 Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Hasan Basri Durin
29 Menteri Negara Perumahan Pemukiman Theo L. Sambuaga
30 Menteri Negara Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal Panangian Siregar
31 Menteri Negara Peranan Wanita Tuti Alawiyah
32 Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga Agung Laksono

Menteri negara koordinator

33 Menteri Negara Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Feisal Tanjung
34 Menteri Negara Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri Ginandjar Kartasasmita
35 Menteri Negara Koordinator Bidang Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara Hartarto Sastrosoenarto
36 Menteri Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan Haryono Suyono

Pejabat setingkat menteri

37 Jaksa Agung Andi Ghalib